Oktober 31, 2010

Kebutuhan Ibu Selama Kala II Persalinan dan Melakukan Amniotomi dan Episiotomi

MAKALAH ASUHAN KEBIDANAN II
“Memberikan Asuhan pada Ibu Bersalin Kala II : Kebutuhan Ibu Selama Kala II Persalinan
dan
Melakukan Amniotomi dan Episiotomi”

Dosen : Ibu Jenny J.S. Sondakh, M. Clin. Mid.










Oleh Kelompok 11 :
1. Afifa Rahma Hani 0902100001
2. Novitasari Mustika R. 0902100024
Kelas II A


JURUSAN KEBIDANAN
PROGRAM STUDI DIII KEBIDANAN MALANG
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN MALANG
Tahun 2010
DAFTAR ISI

Daftar Isi 1
1 Memberikan Asuhan pada Ibu Bersalin Kala II
1.1 Kebutuhan Ibu Selama Kala II Persalinan
1.1.1 Pernapasan 2
1.1.2 Mendorong 3
1.1.3 Orang terdekat 3
1.2 Asuhan Sayang Ibu 5
1.3 Melakukan Amniotomi dan Episiotomi
1.3.1 Amniotomi 8
1.3.2 Episiotomi 11
1.3.3 Menjahit Episiotomi 16
Daftar Pustaka 19














TINJAUAN TEORI

1 Memberikan Asuhan pada Ibu Bersalin Kala II
Kala II persalinan dimulai dengan dilatasi serviks dan diakhiri dengan kelahiran bayi. Tahap ini dikenal dengan kala ekspulsi. (Buku Ajar Asuhan Kebidanan Edisi 4 Volume 2, Helen Varney, 2008: 751)
Kala II adalah mulai dari saat pembukaan mulut rahim secara penuh hingga si kecil lahir. (Panduan Lengkap Kehamilan, Persalinan dan Perawatan Bayi, M.T. Indiarti, 2007: 147)
1.1 Kebutuhan Ibu Selama Kala II Persalinan
Perawatan tubuh dan perawatan penunjang selama kala dua persalinan merupakan kelanjutan asuhan yang dimulai selama kala satu persalinan; dimodifikasi untuk memenuhi perubahan kebutuhan wanita yang berkembang selama persalinan. Keefektifan tindakan memberi kenyamanan bergantung pada bagaimana setiap wanita mengalami dan menerimanya. Terdapat sedikit tindakan tambahan dan pertimbangan yang spesifik untuk kala dua persalinan, yaitu mengenai pernapasan, dorongan, dan orang terdekat wanita.
1.1.1 Pernapasan
Wanita harus menggunakan bentuk pernapasan terkontrol, seperti yang digunakan pada saat fase aktif kala satu persalinan, selama kontraksi jika ia belum merasa ingin mendorong. Jenis pernapasan ini dimulai dengan napas pembersihan, kemudian menjadi napas dada lambat yang kecepatannya meningkat pada saat kontraksi mencapai puncaknya, kemudian melambat pada saat kontraksi mereda, dan diakhiri dengan napas pembersihan lainnya.
Wanita mungkin memerlukan bantuan dalam mengatur pernapasannya dan dalam mengefektifkan penggunaan upaya dorong alaminya.
Wanita perlu dipimpin untuk bernapas pendek dan cepat jika ia merasa ingin mendorong. Bernapas pendek dan cepat dapat berarti melakukan inhalasi dengan cepat diikuti ekshalasi yang kuat dan segera diulangi. Pernapasan pendek dan cepat juga dapat berarti napas tenggorok yang dangkal dan cepat. Kemampuan wanita untuk bernapas pendek dan tidak melakukan dorongan dapat menjadi hal yang penting, dan ia harus diajarkan bagaimana melakukan hal itu ketika memasuki kala dua persalinan jika ia belum diajarkan sebelumnya.
1.1.2 Mendorong
Wanita yang merasa seperti ingin atau perlu untuk mendorong dapat dibantu dengan sejumlah cara untuk membuat upayanya seefektif mungkin. Membantu wanita mendorong akan membuat pasangannya merasa penting, mempunyai peran dan berpartisipasi dalam pengalaman ini.
1.1.3 Orang terdekat
Idealnya, orang yang diinginkan kehadirannya pada saat pelahiran telah didiskusikan dan direncanakan beberapa waktu sebelumnya. Tempat bersalin tanpa pembatasan orang yang akan hadir ketika pelahiran, kecuali yang ditempatkan oleh wanita adalah di rumah. Rumah bersalin umumnya juga memilikisedikit sampai tidak ada pembatasan. Tempat yang paling dibatasi adalah ruang bersalin rumah sakit dengan jumlah orsng terdekat wanita biasanya dibatasi satu atau dua orang saja. Bergantung pada ukuran ruang bersalin atau jika pelahiran bertempat di ruang LDR atau LDRP (Labor/deliver/recovery/postpartum room), lebih banyak orang terdekat wanita mungkin diperbolehkan. Kebijakan mengenai kehadiran orang terdekat pada saat pelahiran sangat bervariasi di setiap rumah sakit. Lebih banyak rumah sakit yang toleran mengizinkan saudara kandung hadir selama persalinan dan pada saat kelahiran. Kebijakan rumah sakit yang membatasi telah menjadi salah satu alasan bagi pasangan untuk mencari alternatif tempat melahirkan di luar rumah sakit.
Jika anak-anak akan hadir ketika pelahiran, tanpa memperhatikan tempat bersalin, diperlukan orang dewasa yang menjadi penangjawab utama atas mereka dan mengurus mereka. Anak-anak harus dapat meninggalkan tempat bersalin jika mereka menginginkannya, atau jika diperlukan. Anak-anak harus dipersiapkan untuk melihat dan mendengar suasana melahirkan dan dapat terlibat dalam persiapan untuk pelahiran dan persiapan untuk bayi.
Jika proses melahirkan akan dilakukan dalam ruang pelahiran, bidan harus menyambut pasangan dan membuat ia merasa diinginkan dan dibutuhkan, seperti yang dilakukan dalam ruang bersalin. Tempatkan pasangan di samping wanita, sediakan bangku untuk duduk, dan tekankan pentingnya keberadaannya di tempat tersebut. Jika orang terdekat wanita perlu berganti pakaian untuk masuk ke dalam ruang pelahiran, berikan waktu sebanyak yang diperlukan sehingga ia tidak melewatkan pelahiran. Sertakan orang terdekat wanita ketika bidan menjelaskan tentang aktivitas yang sedang terjadi.
Aktivitas orang terdekat wanita selama tahap kedua persalinan sekali lagi bergantung pada kemampuan dan harapan orang tersebut serta beberapa banyak partisipasi yang disetujui wanita, orang tersebut, dan penolong. Sebagai contoh, pasangan dapat terus melakukan aktivitas yang mereka lakukan selama kala satu persalinan. Mereka juga dapat membantu wanita dalam teknik mendorong, menyemangatinya, membasuh wajahnya, berbagi hal dan juga saat-saat pelahiran yang dinantikan bersamanya, serta memotong tali pusat. (Buku Ajar Asuhan Kebidanan Edisi 4 Volume 2, Helen Varney, 2008: 766-767)
Lesser dan Keane dalam buku Midwifery oleh Varney, 2002 menyatakan bahwa kebutuhan ibu selama persalinan antara lain :
Perawatan tubuh, pendampingan oleh keluarga, bebas dari rasa nyeri persalinan, penghormatan akan budaya, dan informasi tentang diri dan janinnya. asuhan tubuh artinya metode sentuhan oleh pendamping persalinan, misalnya : mengusap mata dengan washlap lembab, memperhatikan kebersihan tubuh, memperhatikan kebersihan pada vulva agar ibu nyaman dan pemberian nutrisi.
1. Kehadiran pendamping secara terus menerus . Hal ini memberikan hasil:
a. Persalinan yang diakhiri oleh vacuum ekstraksi dan forceps semakin sedikit
b. Pembedahan cesar semakin menurun
c. Skore apgar <7 semakin menurun
d. Waktu yang diperlukan dalam persalinan semakin pendek
e. Kepuasan ibu semakin meningkat dalam pengalaman melahirkan
2. Mengurangi rasa sakit. Cara yang digunakan untuk manajemen nyeri persalinan oleh pendamping persalinan secara terus-menerus bersifat sederhana, efektif, tidak beresiko/ resikonya rendah, bersifat sayang ibu serta kemajuan proses persalinan
3. Varney 2004 menjelaskan tentang cara manajemen nyeri persalinan dengan mendukung persalinan, dan asuhan tubuh
4. Penny Simpkin, 2005 menjelaskan bahwa cara untuk mengurangi rasa sakit yaitu dengan mengurangi rasa sakit langsung pada sumbernya, memberikan rangsangan alternative yang kuat serta mengurangi reaksi mental negative, emosional dan fisik ibu terhadap rasa sakit. Untuk itu perlu dilakukan :
a. Kehadiran yang terus menerus, sentuhan, penghiburan, dan dorongan dari orang yang mendampinginya
b. Pergantian posisi sesuai keinginan ibu dan pergerakan
c. Masase pada pinggang
d. Penekanan pada lutut dalam posisi ibu duduk oleh pendamping persalinan
e. Kompres bergantian panas atau dingin
f. Pemberian keleluasaan kepada ibu selama persalinan untuk mengeluarkan suara/ berteriak/ menangis
g. Visualisasi atau menganjurkan ibu untuk membayangkan proses persalinan akan berjalan dengan mudah dan pemusatan perhatian.
h. Pemutaran music. Music yang tenang membuat ibu rileks dalam menjalani persalinan.
(PERAWATAN IBU BERSALIN (Asuhan Kebidanan pada ibu bersalin), Sumarah, dkk., 2009:106)
1.2 Asuhan Sayang Ibu
Dalam pemenuhan kebutuhan ibu dalam persalinan kala dua, dilaksanakan asuhan sayang ibu. Asuhan sayang ibu meliputi:
1.2.1 Anjurkan ibu agar ibu selalu didampingi oleh keluarganya selama proses persalinan dan kelahiran bayinya. Dukungan dari suami, orang tua, dan kerabat yang disukai ibu sangat diperlukan dalam menjalani proses persalinan.
Alasan: Hasil persalinan yang baik ternyata erat hubungannya dengan dukungan dari keluarga yang mendampingi dalam menjalani proses persalinan. (Enkin, et al, 2000)
1.2.2 Anjurkan keluarga ikut terlibat dalam asuhan, diantaranya membantu ibu untuk berganti posisi, melakukan rangsangan taktil, memberikan makanan dan minuman, teman bicara, dan memberikan dukungan dan semangat selama persalinan dan melahirkan bayinya.
1.2.3 Penolong persalinan dapat memberikan dukungan dan semangat kepada ibu dan anggota keluarganya dengan menjelaskan tahapan dan kemajuan proses persalinan atau kelahiran bayi kepada mereka.
1.2.4 Tenteramkan hati ibu dalam menghadapi dan menjalani kala dua persalinan. Lakukan bimbingan dan tawarkan bantuan jika diperlukan.
1.2.5 Bantu ibu untuk memilih posisi yang nyaman saat meneran. Ada beberapa posisi yang dapat dipilih, diantaranya:
• Posisi duduk atau setengah duduk










• Posisi merangkak atau miring ke kiri














• Posisi jongkok atau berdiri










1.2.6 Setelah pembukaan lengkap, anjurkan ibu hanya meneran apabila ada dorongan kuat dan spontan untuk meneran. Jangan menganjurkan untuk meneran berkepanjangan dan menahan napas. Anjurkan ibu beristirahat di antara kontraksi.
Alasan: Meneran secara berlebihan menyebabkan ibu sulit bernapas sehingga terjadi kelelahan yang tidak perlu dan meningkatkan risiko asfiksia pada bayi sebagai akibat turunnya pasokan oksigen melalui plasenta (Enkin, et al, 2000)
Anjuran cara mengejan yang benar :
- Pilih posisi tubuh yang paling nyaman
- Waktu yang tepat untuk mengejan ialah ketika kala II. Ciri-ciri datangnya kala II: ada dorongan mengejan, tekanan pada anus, perineum menonjol, vulva membuka, meningkatnya pengeluaran darah dan lendir, serta kepala bayi telah ada di dasar panggul.
- Kepala ibu saat mengejan mesti menunduk sampai dagu menyentuh dada bagian atas, selanjutnya mata diarahkan ke pusar
- Mengejanlah seperti hendak buang air besar. Tarik nafas dalam selama kontraksi terjadi, lalu mengejanlah sekuat mungkin.
- Lakukan dengan tenang. Dorongan yang panik hanya akan menghamburkan tenaga karena hanya sedikit kemajuan yang dicapai
- Lebih baik mengejanlah pendek-pendek kurang lebih 10 detik. Apabila kontraksinya masih ada, ulangi lagi mengejannya. Tujuannya supaya bayi tidak kehabisan oksigen
- Apabila kontraksi berhenti, istirahat saja dan atur nafas. Cobalah minum air manis atau madu untuk menambah tenaga. Saat kontraksi dating lagi, mulailah tarik nafas dan mengejan lagi. (Panduan Lengkap Kehamilan, Persalinan dan Perawatan Bayi, M.T. Indiarti, 2007: 147)
1.2.7 Anjurkan ibu untuk minum selama kala dua persalinan.
Alasan: Ibu bersalin mudah sekali mengalami dehidrasi selama proses persalinan dan kelahiran bayi. Cukupnya asupan cairan dapat mencegah ibu mengalami hal tersebut. (Enkin, et al, 2000)
1.2.8 Adakalanya ibu merasa khawatir dalam menjalani kala dua persalinan. Berikan rasa aman dan semangat serta tenteramkan hatinya selama proses persalinan berlangsung. Dukungan dan perhatian akan mengurangi perasaan tegang, membantu kelancaran proses persalinan dan kelahiran bayi. Beri penjelasan tentang cara dan tujuan dari setiap tindakan setiap kali penolong akan melakukannya, jawab setiap pertanyaan yang diajukan ibu, jelaskan apa yang dialami oleh ibu dan bayinya dan hasil pemeriksaan yang dilakukan.
(Asuhan Persalinan Normal Asuhan Esensial Persalinan, JNPK-KR, 2007: 77)
1.3 Melakukan Amniotomi dan Episiotomi
1.3.1 Amniotomi
Amniotomi/pemecahan selaput ketuban dilakukan bila selaput ketuban masih utuh, ada dorongan yang besar. Manfaat yang diperkirakan adalah persalinan bertambah cepat, deteksi dini kasus pencemaran mekonium pada cairan amnion, dan kesempatan untuk memasang elektroda ke janin serta memasukkan pressure catheter ke dalam rongga uterus. Jika amniotomi dilakukan, harus diupayakan menggunakan teknik aseptik. Yang penting kepala janin harus tetap berada di serviks dan tidak dikeluarkan dari panggul selama prosedur; karena tindakan seperti itu akan menyebabkan prolaps tali pusat. (Obstetri William Edisi 21, Cuningham, dkk., 2006: 343)
Selama selaput ketuban masih utuh, janin akan terhindar dari infeksi dan asfiksia. Cairan amniotic berfungsi sebagai perisai yang melindungi janin dari tekanan penuh dikarenakan kontraksi. Oleh karena itu perlu dihindarkan amniotomi dini pada kala I. Biasanya, selaput ketuban akan pecah secara spontan.
Keuntungan tindakan amniotomi :
1. Untuk melakukan pengamatan ada tidaknya mekonium
2. Menentukan punctum maksimum DJJ akan lebih jelas
3. Mempermudah perekaman pada saat memantau janin
4. Mempercepat proses persalinan karena mempercepat proses pembukaan serviks
Kerugian tindakan Amniotomi :
1. Dapat menimbulkan trauma pada kepala janin yang mengakibatkan kecacatan pada tulang kepala akibat dari tekanan deferensial meningkat
2. Dapat menambah kompresi tali pusat akibat jumlah cairan amniotic berkurang.
Indikasi amniotomi :
1. Pembukaan lengkap
2. Pada kasus solutio plasenta
(PERAWATAN IBU BERSALIN (Asuhan Kebidanan pada ibu bersalin), Sumarah, dkk., 2009:108)
Apabila selaput ketuban belum pecah dan pembukaan sudah lengkap maka perlu dilakukan tindakan amniotomi. Perhatikan warna air ketuban yang keluar saat dilakukan amniotomi. Jika terjadi pewarnaan mekonium pada air ketuban maka dilakukan persiapan pertolongan bayi setelah lahir karena hal tersebut menunjukkan adanya hipoksia dalam rahim atau selama proses persalinan. (Asuhan Persalinan Normal dan Inisiasi Menyusui Dini, 2008: 78)
Penatalaksanaan amniotomi :
1. Membahas prosedur bersama ibu dan keluarganya dan jawab pertanyaan apapun yang mereka ajukan
2. Dengarkan denyut jantung janin (DJJ) dan catat pada partograf.
3. Cuci kedua tangan.
4. Pakai sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi atau steril.
5. Diantara kontraksi lakukan pemeriksaan dalam dengan hati-hati. Raba dengan hati-hati selaput ketuban untuk memastikan bahwa kepala telah masuk dengan baik (masuk ke dalam panggul) dan bahwa tali pusat dan/atau bagian-bagian tubuh yang kecil dari bayi bias dipalpasi, jangan pecahkan selaput ketuban. Lihat table 2-1 untuk langkah-langkah kegawatdaruratan dan rujuk segera. Catatan : pemeriksaan dalam yang dilakukan di antara kontraksi seringkali lebih nyaman untuk ibu. Tapi jika selaput ketuban tidak dapat diraba di antara kontraksi, tunggu sampai kekuatan kontraksi berikutnya mendorong cairan ketuban dan membuatnya lebih mudah untuk dipalpasi dan dipecahkan.
6. Dengan menggunakan tangan yang lain, tempatkan klem setengah Kocher atau setengah Kelly disinfeksi tingkat tinggi atau steril dengan lembut ke dalam vagina dan pandu klem dengan jari dari tangan yang digunakan untuk pemeriksaan hingga mencapai selaput ketuban.
7. Pegang ujung klem diantara ujung jari pemeriksaan, gerakkan jari dengan lembut gosokkan klem pada selaput ketuban dan pecahkan. Catatan : seringkali lebih mudah untuk memecahkan selaput ketuban diantara kontraksi ketika selaput ketuban tidak tegang, hal ini juga akan mencegah air ketuban menyemprot pada saat selaput ketuban dipecahkan.
8. Biarkan air ketuban membasahi jari tangan yang digunakan untuk pemeriksaan.
9. Gunakan tangan yang lain untuk mengambil klem dan menempatkannya ke dalam larutan klorin 0,5 % untuk didekontaminasi. Biarkan jari tangan pemerikasaan tetap di dalam vagina untuk mengetahui penurunan kepala janin dan memastikan bahwa tali pusat atau bagian kecil dari bayi tidak teraba. Setelah memastikan penurunan kepala dan tidak ada tali pusat bagian-bagian tubuh bayi yang kecil, keluarkan tangan pemeriksa secara lembut dari dalam vagina.
10. Evaluasi warna cairan ketuban, periksa apakah ada mekonium atau darah (lebih banyak dari bercak bercampur darah yabg normal). Jika mekonium atau darah (lebih banyak dari bercak bercampur darah yang normal). Jika mekonium atau darah terlihat, lihat table 2-1 untuk langkah-langkah gawat darurat.
11. Celupkan tangan yang masih menggunakan sarung tangan ke dalam larutan klorin 0,5%, lalu lepaskan sarung tangan dan biarkan terendam di larutan klorin 0,5% selama 10 menit.
12. Cuci kedua tangan
13. Segera periksa ulang DJJ
14. Catat pada partograf waktu dilakukannya pemecahan selaput ketuban, warna air ketuban dan DJJ.
(Asuhan Persalinan Normal dan Inisiasi Menyusui Dini, JNPK-KR, 2008: 145)







Contoh gambar amniotomi
1.3.2 Episiotomi
Pada masa yang lalu, tindakan episiotomi dilakukan secara rutin terutama pada primipara. Tindakan ini bertujuan untuk mencegah trauma pada kepala janin, mencegah kerusakan pada spinter ani serta lebih mudah untuk menjahitnya. Namun hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada bukti yang mendukung manfaat episiotomi (Enkim, Keirse, Renfew dan Nelson, 1995; Wooley, 1995). Pada kenyataannya tindakan episiotomi dapat menyebabkan peningkatan jumlah jumlah kehilangan darah ibu, bertambah dalam luka perineum bagian posterior, meningkatkan kerusakan pada spinter ani dan peningkatan rasa nyeri pada hari-hari pertama post partum. (PERAWATAN IBU BERSALIN (Asuhan Kebidanan pada ibu bersalin), Sumarah, dkk., 2009:108)
Episiotomi adalah suatu sayatan di dinding belakang vagina agar bukaan lebih lebar sehingga bayi dapat keluar dengan lebih mudah. Dapat dimengerti jika kaum wanita khawatir kalau-kalau sayatan atau robekan akan memengaruhi vagina dan perineum (kulit antara vagina dan anus) sehingga kelak hubungan seksual akan menyakitkan, atau area tersebut menjadi jelek, atau tidak memungkinkan penggunaan tampon. Wanita yang pernah mengalami pelecehan seksualsering takut jika mendengar penyayatan karena ini mengingatkan pada kerusakan yang pernah mereka alami. (Kehamilan dan Melahirkan, Mary Nolan, 2003: 127)

Dianjurkan untuk melakukan episiotomi pada primigravida atau pada wanita dengan perineum yang kaku. Episiotomi ini dilakukan bila perineum telah menipis dan kepala janin tidak masuk kembali ke dalam vagina. Ketika kepala janin akan mengadakan defleksi dengan suboksiput di bawah simfisis sebagai hipomoklion, sebaiknya tangan kiri menahan bagian belakang kepala dengan maksud agar gerakan defleksi tidak terlalu cepat. Dengan demikian, ruptura perinei dapat dihindarkan. Untuk mengawasi perineum ini posisi miring (Sims position) lebih menguntungkan dibandingkan dengan posisi biasa. Akan tetapi, bila perineum jelas telah tipis dan menunjukkan akan timbul ruptura perinei, maka sebaiknya dilakukan episiotomi. Dikenal:
a. Episotomi mediana, dikerjakan pada garis tengah









b. Episiotomi mediolateral, dikerjakan pada garis tengah yang dekat muskulus sfingter ani, dan diperluas ke sisi









c. Episiotomi lateral, yang sering terjadi perdarahan
Keuntungan episiotomi mediana ialah tidak menimbulkan perdarahan banyak dan penjahitan kembali lebih mudah, sehingga sembuh per primam dan hampir tidak berbekas. Bahayanya ialah dapat menimbulkan ruptura perinei totalis. Dalam hal ini muskulus sfingter ani eksternus dan rektum ikut robek pula. Perawatan ruptura perinei totalis harus dikerjakan serapi-rapinya, agar jangan sampai gagal dan timbul inkontinensia alvi.
(Ilmu Kebidanan, Hanifa Wiknjosastro, 2007: 195)
Indikasi Episiotomi :
1. Gawat janin. Untuk menolong keselamatan janin, maka persalinan harus segera diakhiri.
2. Persalinan pervaginam dengan penyulit, misalnya presbo, distoksia bahu, akan dilakukan ekstraksi forcep, ekstraksi vacuum
3. Jaringan parut pada perineum ataupun pada vagina
4. Perineum kaku dan pendek
5. Adanya rupture yang membakat pada perineum
6. Premature untuk mengurangi tekanan
(PERAWATAN IBU BERSALIN (Asuhan Kebidanan pada ibu bersalin), Sumarah, dkk., 2009:108)
Penatalaksanaan episiotomi :
1. Persiapan :
a. Peralatan : baik steril berisi kasa, gunting episiotomy, betadin, spuit 10 ml dengan jarum ukuran minimal 22 dan panjang 4 cm, lidokain 1% tanpa epineprin. Bila bila lidokain 1% tidak ada dan tersedia likokain 2% maka buatlah likokain tadi menjadi 1% dengan cara melarutkan 1 bagian lidokain 2% ditambah 1 bagian cairan garam fisiologis atau air destilasi steril. Contoh : Larutkan 5 ml lidokain 2% ke dalam 5 ml cairan garam fisiologis atau air destilasi steril.
b. Pertimbangkan secara matang tujuan episiotomi.
(PERAWATAN IBU BERSALIN (Asuhan Kebidanan pada ibu bersalin), Sumarah, dkk., 2009:108)
c. Pertimbangkan indikasi-indikasi untuk melakukan episiotomi dan pastikan bahwa episiotomi tersebut penting untuk keselamatan dan kenyamanan ibu dan/atau bayi.
d. Pastikan bahwa semua perlengkapan dan bahan-bahan yang diperlukan sudah tersedia dan dalam keadaan disinfeksi tingkat tinggi atau steril.
e. Gunakan teknik aseptik setiap saat. Cuci tangan dan pakai sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi atau steril.
f. Jelaskan pada ibu mengapa ia memerlukan episiotomi dan diskusikan prosedurnya dengan ibu. Berikan alasan rasional pada ibu.
2. Prosedur
a. Tunda tindakan episiotomi sampai perineum menipis dan pucat, dan 3-4 cm kepala bayi sudah terlihat pada saat kontraksi.
Alasan: Melakukan episiotomi akan ,nenyebabkan perdarahan; jangan melakukannya terlalu dini.
b. Masukkan dua jari ke dalam vagina di antara kepala bayi dan perineum. Kedua jari agak direnggangkan dan berikan sedikit tekanan lembut ke arah luar pada perineum.
Alasan: Hal ini akan melindungi kepala bayi dari gunting dan meratakan perineum sehingga membuatnya lebih mudah diepisiotomi..
c. Gunakan gunting tajam disinfeksi tingkat tinggi atau steril, tempatkan gunting di tengah tengah fourchette posterior dan gunting mengarah ke sudut yang diinginkan untuk me-lakukan episiotomi mediolateral (jika anda bukan kidal, episiotomi mediolateral yang dilakukan di sisi kiri lebih mudah dijahit). Pastikan untuk melakukan palpasi/ mengidentifikasi sfingter ani eksternal dan mengarahkan gunting cukup jauh kearah samping untuk rnenghindari sfingter.
d. Gunting perineum sekitar 3-4 cm dengan arah mediolateral menggunakan satu atau dua guntingan yang mantap. Hindari “menggunting” jaringan sedikit demi
sedikit karena akan menimbulkan tepi yang tidak rata sehingga akan menyulitkan penjahitan dan waktu penyembuhannya lebih lama.
e. Gunakan gunting untuk memotong sekitar 2-3 cm ke dalam vagina.
f. Jika kepala bayi belum juga lahir, lakukan tekanan pada luka episiotomi dengan di lapisi kain atau kasa disinfeksi tingkat tinggi atau steril di antara kontraksi untuk membantu mengurangi perdarahan.
Alasan: Melakukan tekanan pada luka episiotomi akan menurunkan perdarahan.
g. Kendalikan kelahiran kepala, bahu dan badan bayi untuk mencegah perluasan episio-tomi.
h. Setelah bayi dan plasenta lahir, periksa dengan hati-hati apakah episiotomi, perineum dan vagina mengalami perluasan atau laserasi, lakukan penjahitan jika terjadi perluasan episiotomi atau laserasi tambahan.
(Asuhan Persalinan Normal Asuhan Esensial Persalinan, JNPK-KR, 2007: 147)
Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk membantu mengurangi resiko penyayatan atau robekan selama persalinan.
- Jika dalam posisi berdiri dan tidak duduk pada tulang ekor ketika mendorong bayi keluar, panggul akan terbuka lebar dan Anda member sebanyak mungkin ruang bagi bayi untuk menemukan jalan keluar termudah. Semakin mudah bayi keluar, akan semakin kurang tekanan yang diterima oleh vagina dan perineum
- Cobalah dan bayangkan vagina membuka agar bayi bisa lewat dengan mudah, jangan menahan.
- Ketika bidan mengatakan bahwa kepala bayi akan keluar pada kontraksi berikutnya, Anda dapat melakukan posisi merangkak sehingga kepala bayi akan keluar perlahan-lahan dari vagina dan memungkinkan perineum meregang perlahan-lahan di depan wajah bayi. Kelahiran yang timbul seperti ini akan sangat baik bagi bayi karena melindungi pembuluh-pembuluh darah yang lembut di dalam kepalanya dari kemungkinan cidera, juga sangat baik bagi Ibu, karena mengurangi resiko robeknya perineum
- Bidan akan meminta agar ibu bernapas pendek-pendek bukan mengejan, ketika kepala bayi keluar dan ini juga akan membantu kelahiran yang lembut
(Kehamilan dan Melahirkan, Mary Nolan, 2003: 127)


1.3.3 Menjahit Episiotomi
Tujuan menjahit laserasi atau episiotomi adalah untuk menyatukan kembali jaringan tubuh (mendekatkan) dan mencegah kehilangan darah yang tidak perlu (memastikan hemostasis). Ingat bahwa setiap kali jarum masuk ke dalam jaringan tubuh, jaringan akan terluka dan menjadi tempat yang potensial untuk timbulnya infeksi. Oleh sebab itu pada saat menjahit laserasi atau episiotomi gunakan benang yang cukup panjang dan gunakan sesedikit mungkin jahitan untuk mencapai tujuan pendekatan dan hemostasis.
Keuntungan-keuntungan teknik penjahitan jelujur:
• Mudah dipelajari (hanya perlu belajar satu jenis penjahitan dan satu atau dua jenis simpul)
• Tidak terlalu nyeri karena lebih sedikit benang yang digunakan
• Menggunakan lebih sedikit jahitan
Mempersiapkan penjahitan :
1. Bantu ibu mengambil posisi litotomi sehingga bokongnya berada di tepi tempat tidur atau meja. Topang kakinya dengan alat penopang atau minta anggota keluarga untuk memegang kaki ibu sehingga ibu tetap berada dalam posisi litotomi.
2. Tempatkan handuk atau kain bersih di bawah bokong ibu.
3. Jika mungkin, tempatkan lampu sedemikian rupa sehingga perineum bisa dilihat dengan jelas.
4. Gunakan teknik aseptik pada saat memeriksa robekan atau episiotomi, memberikan anestesi lokal dan menjahit luka (Lihat Bab 1).
5. Cuci tangan menggunakan sabun dan air bersih yang mengalir.
6. Pakai sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi atau yang steril.
7. Dengan menggunakan teknik aseptik, persiapkan peralatan dan bahan-bahan disinfeksi tingkat tinggi untuk penjahitan (peralatan dan bahan-bahan ini tercantum di lampiran 5)
8. Duduk dengan posisi santai dan nyaman sehingga luka bisa dengan mudah dilihat dan penjahitan bisa dilakukan tanpa kesulitan.
9. Gunakan kain/kasa disinfeksi tingkat tinggi atau bersih untuk menyeka vulva, vagina dan perineum ibu dengan lembut, bersihkan darah atau bekuan darah yang ada sambil menilai dalam dan luasnya luka.
10. Periksa vagina, serviks dan perineum secara lengkap. Pastikan bahwa laserasi/sayatan perineum hanya merupakan derajat satu atau dua. Jika laserasinya dalam atau episiotomi telah meluas, periksa lebih jauh untuk memeriksa bahwa tidak terjadi robekan derajat tiga atau empat. Masukkan jari yang bersarung tangan ke dalam anus dengan hati-hati dan angkat jari tersebut perlahan-lahan untuk mengidentifikasi sfingter ani. Raba tonus atau ketegangan sfingter. Jika sfingter terluka, ibu mengalami laserasi derajat tiga atau empat dan harus dirujuk segera. Ibu juga dirujuk jika mengalami laserasi serviks.
11. Ganti sarung tangan dengan sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi atau steril yang baru setelah melakukan pemeriksaan rektum.
12. Berikan anestesia lokal (kajilah teknik untuk memberikan anestesia lokal di bawah ini).
13. Siapkan jarum (pilih jarum yang batangnya bulat, tidak pipih) dan benang. Gunakan benang kromik 2-0 atau 3-0. Benang kromik bersifat lentur, kuat, tahan lama dan paling sedikit menimbulkan reaksi jaringan.
14. Tempatkan jarum pada pemegang jarum dengan sudut 90 derajat, jepit dan jepit jarum tersebut.
(Asuhan Persalinan Normal Asuhan Esensial Persalinan, JNPK-KR, 2007: 151-152)
Dalam penjahitan episiotomi, penting menggunakan benang yang dapat diserap untuk menutup robekan. Benang poliglikolik lebih dipilih dibandingkan catgut kromik karena kekuatan regangannya, bersifat non alergenik, kemungkinan komplikasi infeksi dan kerusakan episiotominya lebih rendah. Catgut kromik dapat digunakan sebagai alternative, tetapi bukan benang yang ideal. (Manajemen Komplikasi Kehamilan & Persalinan, Devi Yulianti, 2006:307)
Komplikasi pada penjahitan episiotomi :
1. Jika terjadi hematoma, buka dan buat drain hematoma. Jika tidak terdapat tanda-tanda infeksi dan perdarahan berhenti, tutup kembali episiotomy.
2. Jika terdapat tanda-tanda infeksi, buka dan buat drain luka. Angkat jahitan yang terinfeksi dan lakukan debridement luka.
3. Jika infeksi ringan, antibiotic tidak diperlukan.
4. Jika infeksi berat tetapi tidak mencapai jaringan dalam, berikan kombinasi antibiotic
5. Ampisilin 500 mg per oral empat kali sehari selama lima hari
6. Ditambah metronidazol 400 mg per oral tiga kali sehari selama lima hari
7. Jika infeksi dalam, mencapai otot, dan menyebabkan nekrosis (fasitis nekrotik), berikan kombinasi antibiotic sampai jaringan nekrotik dibuang dan ibu tidak demam selama 48 jam
8. Penisilin G 2 juta unit melalui IV setiap enam jam.
9. Ditambah gentamisin 5 mg/kg berat badan melalui IV setiap 24 jam
10. Ditambah metronidazol 500 mg melalui IV setiap delapan jam.
11. Setelah ibu tidak demam selama 48 jam, berikan
12. Ampisilin 500 mg per oral empat kali sehari selama lima hari.
Catatan : Fasitis nekrotik memerlukan debridement bedah yang luas. Lakukan penutupan primer lambat dalam dua sampai empat minggu (bergantung pada penyembuhan infeksi).
(Manajemen Komplikasi Kehamilan & Persalinan, Devi Yulianti, 2006:307)















DAFTAR PUSTAKA

Varney, Helen, dkk. 2008. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Edisi 4 Volume 2. Jakarta : EGC
Indiarti M.T., 2007. Panduan Lengkap Kehamilan, Persalinan dan Perawatan Bayi, Jogjakarta: Diglossia Media
Johnson, Ruth, dkk., 2004. Buku Ajar Praktik Kebidanan. Jakarta: EGC
Yulianti, Devi. 2006. Manajemen Komplikasi Kehamilan & Persalinan. Jakarta: EGC
Sumarah, dkk. 2009. Perawatan Ibu Bersalin (Asuhan Kebidanan Pada Ibu Bersalin). Jakarta: Fitramaya
Wiknjosastro, Hanafi. 2007. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo
Cuningham, E. Gary et al. 2006. Obstetri Williams Edisi 21. Jakarta: EGC
JNPK-KR. 2007. Asuhan Persalinan Normal Asuhan Esensial Persalinan. Jakarta : Jaringan Nasional Pelatihan Klinik
JNPK-KR. 2008. Asuhan Persalinan Normal dan Inisiasi Menyusu Dini. Jakarta : Jaringan Nasional Pelatihan Klinik

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar